Oleh: Anita turisia
(Mahasiswa S2 jurusan manajeman pendidikan islam IAIN kerinci dan Praktisi Pendidikan di Provinsi Jambi)
Jambi, Koranjambi.com – Belakangan ini, ruang bincang pendidikan kita kembali riuh dengan munculnya istilah Deep Learning atau pembelajaran mendalam yang digulirkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Bagi kita yang berada di garda depan pendidikan—para guru yang setiap hari berhadapan dengan wajah-wajah penuh harap di kelas—istilah baru sering kali disambut dengan skeptisisme: “Apakah ini sekadar ganti nama, atau sebuah revolusi nyata?”
Sebagai praktisi yang tengah menjalankan Kurikulum Merdeka sekaligus menyelami khazanah akademik di bangku kuliah, saya melihat sebuah paradoks. Di satu sisi, Kurikulum Merdeka telah memberikan fleksibilitas luar biasa melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Namun di sisi lain, fleksibilitas ini sering kali terjebak dalam jebakan administratif. Kita melihat siswa sibuk membuat pameran proyek, namun ketika diajak berdiskusi mendalam tentang esensi ilmu di balik proyek tersebut, mereka sering kali terdiam. Di sinilah Deep Learning hadir, bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai “napas” yang harus dihembuskan ke dalam tubuh Kurikulum Merdeka yang mulai terasa kaku.
Melampaui Kulit Luar: Analisis Strategis
Jika kita membedah kondisi saat ini, Kurikulum Merdeka memiliki kekuatan pada kemerdekaannya dalam mengatur alur pembelajaran. Namun, kelemahannya terletak pada beban dokumentasi di Platform Merdeka Mengajar (PMM) yang sering membuat guru lebih sibuk dengan “layar gawai” daripada “layar batin” siswa. Akibatnya, pembelajaran menjadi dangkal; luas namun tidak menghujam ke akar.
Pendekatan Deep Learning yang menekankan pada tiga pilar—Mindfullness (kesadaran), Meaningfull (kebermaknaan), dan Joyfull (menyenangkan)—adalah jawaban atas kelemahan tersebut. Dalam kacamata akademik, pembelajaran mendalam bukanlah soal seberapa banyak materi yang dihabiskan dalam satu semester, melainkan seberapa berkualitas interaksi yang tercipta di ruang kelas. Ini adalah peluang emas bagi kita di Jambi untuk meningkatkan skor literasi dan numerasi yang secara nasional masih tertinggal jauh di belakang negara tetangga seperti Vietnam.
Hambatan di Akar Rumput Jambi
Namun, kita tidak boleh menutup mata terhadap ancaman nyata di lapangan. Di Provinsi Jambi, kesenjangan sarana antar sekolah masih menjadi kerikil tajam. Memaksakan Deep Learning yang hanya dipahami sebagai standarisasi teknologi akan menjadi bencana. Sebaliknya, keunggulan Deep Learning justru terletak pada kemampuannya diterapkan tanpa harus bergantung pada kemewahan fasilitas, asalkan kapasitas nalar kritis guru diasah dengan tajam.
Ancaman terbesar saat ini adalah change fatigue atau kelelahan akan perubahan. Para guru baru saja mulai bernapas lega setelah beradaptasi dengan istilah Capaian Pembelajaran (CP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP). Memborbardir mereka dengan istilah baru tanpa menyentuh perubahan paradigma mengajar hanya akan melahirkan resistensi. Guru bukan tukang jahit yang sekadar menyatukan pola kurikulum; guru adalah arsitek peradaban yang membutuhkan kedalaman pemikiran.
Integrasi, Bukan Substitusi
Solusi yang ditawarkan bukanlah meruntuhkan apa yang sudah dibangun oleh Kurikulum Merdeka, melainkan mengintegrasikan prinsip pembelajaran bermakna ke dalamnya. Kita butuh kurikulum yang “bernyawa”. Di SMAN 2 Sungai Penuh atau sekolah-sekolah di pelosok Kerinci hingga Tanjung Jabung, siswa tidak butuh tumpukan materi yang hanya berakhir di kertas ujian. Mereka butuh pengalaman belajar yang membekas, yang membuat mereka paham “mengapa” sebuah rumus matematika diciptakan atau “bagaimana” sebuah peristiwa sejarah membentuk jati diri mereka hari ini.
Keadilan pendidikan akan terwujud bukan saat semua sekolah memiliki gedung yang sama mewahnya, melainkan saat setiap anak—baik di pusat kota Jambi maupun di pinggiran—mendapatkan hak yang sama untuk berpikir mendalam (thinking deeply). Kurikulum tidak boleh menjadi eksperimen tahunan yang habis di tataran jargon. Ia harus menjadi rahim bagi pemikiran kritis. Jika Kurikulum Merdeka adalah pintu yang sudah terbuka menuju kebebasan belajar, maka Deep Learning adalah cahaya yang harus menerangi ruang di dalamnya. Mari kita berhenti terjebak pada kulit luar birokrasi dan mulai berfokus pada apa yang paling esensial: menghidupkan kembali gairah belajar di mata siswa kita. Sebab, pada akhirnya, pendidikan adalah tentang menyalakan api, bukan sekadar mengisi bejana. (*)
Tentang Penulis: Anita Turisia, adalah seorang pendidik aktif yang saat ini bertugas di SMA negeri 2 Sungai Penuh di Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi dan seorang mahasiswa S2 jurusan manajeman Pendidikan islam di IAIN kerinci Selain mengabdi sebagai praktisi di dunia persekolahan, ia juga merupakan mahasiswa yang menaruh perhatian besar pada kebijakan publik di bidang pendidikan, pemerataan kualitas mutu sekolah, serta pengembangan potensi anak daerah di wilayah Jambi.











