Zaki terpaksa menurut. Ia makin ketakutan melihat 4 anak laki laki lain yang tak dikenalnya, juga berwajah pucat, tubuh kurus dan kepala plontos.
Mereka hanya mengenakan celana pendek tanpa baju. Semua menatap Zaki dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Kamu ngapain sampai di sini?”
“Gak ngapa ngapain.”
“Sebelum kamu kubangunkan tadi, kami lagi ngapain?”
“Aku lagi nge-game di kamar, tau tau aku tertidur,” kenang Zaki.
“Waktu itu dekat Magrib?” tanya Wandi, lagi.
“Iya…”
“Pantas.”
“Pantas kenapa?” tanya Zaki, cemas.













