Penangkaran Ikan Cupang di Jambi, Miliki Konsumen Sampai Eropa ~ KORANJAMBI.COM

Rabu, 18 November 2020

Penangkaran Ikan Cupang di Jambi, Miliki Konsumen Sampai Eropa

penangkaran ikan cupang di jambi

Koranjambi.com, Berbisnis memang asyik, apalagi bisnis itu sesuai dengan hobi kita. Adalah, Panut (24), pria muda yang fokus beternak ikan cupang sejak 2014 silam. Ia telah memiliki pangsa pasar sampai ke Eropa.

Spanyol, Jerman, Belgia dan beberapa negara Eropa lain menjadi segmen pasarnya. Selain itu, Amerika, Singapura dan negeri Jiran Malaysia juga menjadi tujuan pasarnya.

Sementara untuk pasar dalam negeri sendiri, Panut banyak terima pesanan dari Jabodetabek.

Panut mengatakan, pengiriman keluar negeri paling rutin ke negeri jiran Malaysia, minimal satu bulan sekali.

“Sekali pengiriman minimal 100 ekor ikan,” Ujarnya.

Baca Juga Mengenal 7 Jenis Ikan Cupang yang Banyak Dipelihara

Dalam satu bulan pria ini mampu menjual sekitar 400 ikan cupang.

Harga ikan cupangnya sendiri bervariasi, untuk kualitas premium yang biasa dikirim ke Eropa dan Amerika Panut mematok harga Rp 2,5 Juta per ekor.

Sedangkan untuk pasar Asia dan dalam negeri harga ikannya mulai dari Rp 100 ribuan.

“Tergantung jenis dan kelasnya lagi,” Timpalnya.

Lebih lanjut panut mengatakan, untuk saat ini permintaan ikan cupang didominasi oleh ikan cupang hias. Untuk ikan cupang aduan sendiri tidak begitu banyak.

Itulah yang menyebabkan dia fokus untuk budidaya ikan cupang hias di rumahnya.

Banyaknya stok ikan karena dampak dari pandemi Corona, khususnya di awal-awal pandemi kamarin.

Kekhawatiran konsumen untuk bertransaksi, ditambah lagi tidak adanya jadwal penerbangan menjadi kendala utama dia dalam memasarkan ikannya saat pandemi kemarin.

Tapi sekarang kondisi sudah berangsur pulih, bahkan permintaan sudah kembali tinggi.

Pengiriman keluar negeri pun sudah mulai dilakukan lagi.

Saat ini dia mampu meraup omset hingga Rp 50 juta sebulan.

Untuk mencapai pasar yang begitu luas, pria yang tinggal di Jalan Ra Kartini, Talang Bakung Kota Jambi ini memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk mempromosikan dagangannya.

Sebelum tahun 2018, di saat sosmed belum se-booming saat ini. untuk pemasaranya dia memanfaatkan Website.

Barulah setelah 2018 dia perlahan meninggalkan website untuk fokus memasarkan dagangannya di sosial media.(red)


Artikel ini Telah terbit di koran Tribun Jambi