Opini  

Opini Musri Nauli: Semak, Belukar dan Sesap

Koran Jambi, Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (online), definisi semak adalah “ tumbuhan seperti perdu, tetapi lebih kecil dan rendah, hanya cabang utamanya yang berkayu dari ke belukar”.

Disaat menyebutkan lahan terlantar, pengetahuan masyarakat Melayu Jambi berbeda-beda. Ada yang menyebutkan semak, belukar atau sesap.

Di tengah masyarakat, semak dapat dikategorikan sebagai semak kebun dan semak parit. Keduanya mempunyai akibat hukum terhadap hak atas tanah.

Ada juga yang menyebutkan semak kemudian dapat beralih ke belukar.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, belukar adalah tumbuhan perdu yang mempunyai kayu-kayuan kecil dan rendah.

Sehingga sering memadukan kata “semak” menjadi “semak belukar”.

Seloko Jambi kemudian menegaskan seperti “belukar mudo, belukar tuo atau belukar lasah”

Selain istilah Semak dan belukar, masyarakat Melayu Jambi juga mengenal sesap.

Sesap adalah  ladang atau huma yang ditinggalkan. Ada juga yang menyebutkan sebagai bekas ladang atau huma.

Sedangkan sesapan juga sering dipadankan dengan jerami sawah ladang.

Seloko Jambi kemudian menegaskan “sesap rendah. Jerami Tinggi”, atau “sosok jerami. Tunggul pemareh”.

Maknanya adalah terhadap adanya sesap areal bekas ladang/huma tidak boleh lama ditinggalkan.

Sehingga semak baik semak kebun atau semak parit, semak belukar, belukar mudo yang kemudian dapat ditandai dengan seloko “belukar mudo, belukar tuo atau belukar lasah”, sesap rendah. Jerami Tinggi”, atau “sosok jerami. Tunggul pemareh” mempunyai makna yang tegas.

Semuanya adalah seloko yang kemudian dapat dipadankan dengan “lahan terlantar” atau “tanah terlantar.

Sehingga terhadap tanah ataupun lahan terlantar maka mengakibatkan hak atas tanah akan menjadi hilang.

*) Advokat tinggal di Jambi

Baca berita terbaru di JAMBISERU.COM