Sasar Desa Rambutan Masam, Ini Rangkaian Kegiatan Tim Ekspedisi DAS Batanghari.  

Koran Jambi, Batanghari- Memasuki gapura Kantor Desa Rambutan Masam para rombongan Tim Ekspedisi DAS yang didampingi Wakil Bupati (Wabup) Batanghari Bakhtiar beserta jajaran pemerintahan, disambut dengan Tari Sekapur Sirih. Selesai penampilan Tari Sekapur Sirih didahului Wabup Bakhtiar, Tim Ekspedisi, Sekda, Camat Muara Tembesi disajikan memakan daun sirih (Tarian Sekapur Sirih dan Nyirih merupakan simbol penghormatan terhadap orang-orang besar yang datang pada acara khusus di Kabupaten Batanghari).

 

Bakhtiar dalam kata sambutannya mengucapkan selamat datang kepada ketua tim beserta rombongan ekspedisi sungai Batanghari di ‘Bumi Serentak Bak Regam’, tepatnya di Desa Rambutan Masam, Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi.

 

“Dalam rencana pembangunan jangka panjang menengah (RPJMD) Kabupaten Batanghari tahun 2021-2026 telah ditetapkan salah satu arah kebijakan pembangunan Kabupaten Batanghari adalah pengembangan pariwisata berbasis ekowisata dan penyelenggaraan event seni dan budaya berskala regional dan nasional,” Ucap Wabup.

 

Kegiatan susur Sungai Batanghari ini, tentu bagi Pemerintah Kabupaten Batanghari memiliki nilai strategis karena dari kegiatan ini kami sangat berharap akan diperoleh data yang jelas atas cagar budaya serta objek pemajuan kebudayaan di Kabupaten Batanghari yang tentunya ini sangat erat hubungannya dengan upaya untuk mensinergikan pengembangan parawisata budaya sejarah dan religius.

 

“Perihal cagar-cagar budaya yang telah ditemukan sepanjang aliran Sungai Batanghari khususnya di Kabupaten Batanghari, baik itu data Candi Pematang Saung yang ditemukan di Kecamatan Pemayung dan Candi Malaka Intan yang berada di Desa Olak Kecamatan Muara Bulian, makam Keramat Johor dan makam Sultan Adijaya Kusumo serta Pusaka Rambutan Masam, artefak dan lain-lain. Namun pada kesempatan ini juga sebenarnya ada satu makam terletak di Kecamatan Muara Bulian yang juga berada di sepanjang aliran Sungai Batanghari, kami berpendapat makam ini juga bisa dijadikan kegiatan observasi penggalian data cagar budaya yaitu makam Syekh Keramat tinggi yang memiliki panjang 12 M,” ujarnya.

 

Dari panjang Sungai Batanghari kurang lebih sekitar 800 KM yang berhulu dari gunung rasan di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, berakhir di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Setidaknya dari panjang Sungai Batanghari tersebut ada 176,75 km atau 22,1 Persen melewati enam dari delapan Kecamatan, diantaranya Kecamatan Maro Sebo Ulu, Mersam, Muara Tembesi, Maro Sebo Ilir, Muara Bulian dan Pemayung.

 

“Namun sesungguhnya dua kecamatan dalam Kabupaten Batanghari juga dilewati sungai yaitu sungai Batang Tembesi meliputi Kecamatan Batin XXIV dan Kecamatan Muara Tembesi sepanjang 68,25 km artinya sesungguhnya seluruh daerah kabupaten Batanghari berada di aliran sungai,” ungkapnya.

 

Sementara itu berdasarkan Publikasi Tim Ekspedisi Sungai Batanghari melalui Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), menyelenggarakan kegiatan Ekspedisi Sungai Batanghari yang merupakan bagian rangkaian kegiatan Kenduri Swarnabhumi. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya bersama untuk memajukan kebudayaan, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keterhubunganan antara sungai dan peradaban, serta menjaga ekosistem sungai di DAS Batanghari.

 

Kegiatan Ekspedisi Sungai Batanghari berlangsung selama 11 hari dari tanggal 11 hingga 22 Juli 2022. Bupati Dharmasraya, Direktur Pelindungan Kebudayaan, Direktur Perfilman Musik dan Media, Kepala BPNB Sumatera Barat, Kepala BPCB Sumatera Barat, Kepala BPCB Jambi serta Dinas setempat melepas sebanyak 50 peserta yang mengikuti kegiatan ini. Titik awal Ekspedisi Sungai Batanghari pada Selasa (12/07/2022) berada di Jembatan Sungai Dareh, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.

 

Sutan Riska selaku Bupati Dharmasraya berharap kegiatan yang di ikuti oleh 50 orang peserta yang terdiri dari mahasiswa, peneliti dan komunitas yang menyusuri Sungai Batanghari untuk melakukan pendataan, inventarisasi, pemetaan ekosistem. Serta pemantauan dan evaluasi perlindungan cagar budaya dan objek pemajuan kebudayaan bisa memberikan manfaat bagi generasi muda berupa transfer pengetahuan dan selanjutnya diharapkan juga bisa memberikan masukan terhadap perumusan kebijakan dalam upaya pelestarian warisan budaya.

 

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya bersama untuk memajukan kebudayaan, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keterhubunganan antara sungai dan peradaban, serta menjaga ekosistem sungai di DAS Batanghari. (Cr01)

Baca berita terbaru di JAMBISERU.COM