Opini  

Opini Musri Nauli: Jambi dan Pinang

Jambi dan Pinang
Presiden RI, Joko Widodo. Foto: dok facebook jokowi

Koran Jambi, Kedatangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Jambi mempunyai beberapa agenda Penting bagi masyarakat Melayu Jambi.

Pertama. Jokowi menyaksikan ekspor pinang ke Pakistan. Dan kedua kedatangan Jokowi ke Kawasan Cagar Budaya Nasional di Muara Jambi.

Dua peristiwa Penting harus dilihat secara utuh. Sekaligus meletakkan Jambi dalam percaturan nasional dan global.

Membicarakan Jambi dan Pinang, bak “pinang dibelah dua”. Tidak dapat dipisahkan.

Kisah pinang juga dikenal seperti “Putri Selaras Pinang Masak”. Ada juga menyebutkan Putri Pinang Masak. Sebagai simbol Istri Raja Jambi.

Atau kisah pinang yang dalam kamus Bahasa Jawa Kuno sebagai “Jambee”. Kisah yang kemudian menempatkan Jambi dan pinang bagian yang tidak terpisahkan.

Pinang tidak dapat dilepaskan dari peradaban Melayu Jambi. Tradisi “sirih nan sekapur. Rokok nan sebatang. Pinang nan selayang” dikenal sebagai “sekapur sirih (pembukaan/pendahuluan/preambule). “Sirih nan sekapur. Rokok nan sebatang. Pinang nan selayang” adalah “tanda” dimulai Seloko untuk membuka pembicaraan. Tanda persahabatan.

Hampir setiap prosesi sebelum pembicaraan, Sirih nan sekapur. Rokok nan sebatang. Pinang nan selayang” tidak pernah ditinggalkan.

Setelah memakan sirih, menghisap rokok dan mencicipi pinang maka pembicaraan dengan menyampaikan maksud tujuan kedatangan disampaikan.

Pinang juga digunakan dalam prosesi “berusik sirih begurau pinang”. Prosesi “berusik sirih begurau pinang” adalah adalah peristiwa pertemuan lelaki dan Perempuan didalam tempat-tempat keramaian atau kegiatan di kampungnya. Apabila pertemuan yang kemudian disetujui kedua belah pihak, maka Keluarga lelaki akan mendatangi kerumah perempuan dengan mengisahkan “Bak sirih pulang ke gagang. Bak pinang pulang ke tampuk. Tidak menambah pematang sawah. Tidak menambah periuk nasi. Sirih sudah memabuk. Pinang sudah mengemalan. Pandangan sudah tertumpuk. Hati sudah terpaut

Atau seloko “pinang belarik” sebagai penanda Tanah yang dikenal di Daerah uluan Sungai Batanghari.

Di Daerah Ilir khususnya di Marga Kumpeh Ulu dan Marga Kumpeh Ilir dikenal “mentaro”. Tanaman pinang yang ditanam sedikit lebih rapat mengelilingi batas Tanah.

Program pertama Al Haris untuk penanaman bibit pinang di Daerah paling Timur menempatkan simbol Al Haris mengangkat dan identitas Jambi. Sebagai pinang yang kemudian dikenal sebagai Jambee sebagai program unggulan.

Bisnis yang menjadi bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi yang jarang disentuh dan menjadi perhatian dari Pemerintah.

Menempatkan penanaman pinang juga simbol. Al Haris membangkitkan kenangan dari relung masyarakat dan kehidupan sehari-hari.

Dan pilihan strategis didalam visi-misi Al Haris yang Membangun getarakan yang langsung menyambung dengan relung hati masyarakat Jambi kemudian mampu menarik perhatian nasional.

Menurut data resmi Pemerintah Indonesia, pada tahun 2021 lalu ekspor pinang biji di seluruh Tanah Air mencapai lebih dari Rp5 triliun? Angka yang besar sekali.

Buah-buah pinang itu dipanen dari 152.000 hektare lahan pohon pinang di seluruh Tanah Air, 22.000 hektare di antaranya ada di Provinsi Jambi. Pinang biji banyak dibutuhkan di negara-negara Thailand, Iran, India, China, sampai Pakistan.

Membaca angka-angka resmi Pemerintah Indonesia, membuat Jokowi kemudian datang dan menyaksikan ekspor komoditas pinang biji. Sebanyak tujuh kontainer pinang biji seberat 126 ton dengan nilai ekonomi mencapai Rp4,069 miliar itu diekspor ke Pakistan.

Kementerian Pertanian mencatat ekspor pinang Jambi pada Januari-Maret 2022 sebanyak 17.174 ton dengan nilai mencapai Rp416,4 miliar.

Bahkan Jokowi kemudian memerintahkan. Agar volume ekspor pinang biji bisa meningkat lagi. Dan kemudian memerintahkan Menteri Pertanian untuk menyiapkan varietas pinang yang unggul, baik dan berkualitas bagus.

Tidak salah kemudian, visi misi Al Haris-Sani sudah “running” di tingkat nasional dan global. Dan sebagai Rakyat Jambi, saya merasa bangga akan peran strategis yang dimainkan Pemerintah Provinsi Jambi.(*)

*) Penulis Advokat tinggal di Jambi